Aura, dan Pohon Uang di Atas Awan
Ada dua jenis orang di dunia ini: mereka yang percaya bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, dan mereka yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya bisa membeli kebahagiaan, lengkap dengan garansi resminya. Aku? Aku jelas tipe kedua. Bagiku, tidak ada suara yang lebih merdu daripada bunyi transferan masuk, dan tidak ada pemandangan yang lebih indah daripada melihat saldo tabungan yang angka nolnya tidak habis-habis.
Namaku Aura, dan sejak kecil aku punya cita-cita yang dianggap semua orang konyol. Aku ingin kaya raya tanpa harus kerja keras, dan aku ingin hidup seperti seorang putri. “Aura, hidup itu bukan dongeng,” kata teman-temanku dulu. Tapi, aku punya firasat, dongeng itu justru terinspirasi dari hidupku yang akan datang.
Hari ini dimulai seperti hari biasa. Aku terbangun dengan perut keroncongan dan tumpukan tagihan yang menjerit di meja makan. Aku harus segera mencari pekerjaan, atau setidaknya, mencari tumpangan hidup. Aku berjalan tanpa arah sampai akhirnya tiba di sebuah taman kota yang sepi. Di tengah taman, ada sebuah kolam air mancur tua yang sepertinya sudah bertahun-tahun tidak berfungsi.
“Ah, andai saja aku bisa berdoa pada air mancur ini agar semua masalahku selesai,” gumamku sambil melempar koin logam seratus perak ke dalam kolam. Koin itu tenggelam. Untuk sesaat, kolam itu tampak bersinar, dan kemudian redup.
Aku menggeleng. “Sudahlah, Aura. Kau terlalu banyak membaca dongeng.”
Aku pun memutuskan untuk pulang, kembali kepada realita. Aku menaiki angkutan kota yang penuh sesak. Udara pengap dan bau keringat mulai membuatku pusing. Aku memejamkan mata sebentar, berharap saat aku membukanya, aku sudah berada di tempat yang lebih baik.
Ketika aku membuka mata, udara sudah tidak lagi pengap. Aromanya berubah menjadi perpaduan kayu manis dan parfum mahal dari luar negeri. Aku tidak lagi berada di angkot, tapi di dalam sebuah kamar tidur yang luasnya lebih besar dari seluruh rumah kontrakanku dulu. Tempat tidurnya empuk, selimutnya terbuat dari sutra terbaik.
“Selamat pagi, Tuan Putri,” sebuah suara lembut menyapaku.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan yang rapi membungkuk di samping tempat tidur. Ia memegang nampan emas yang berisi sarapan pagi yang terlihat sangat lezat.
“Tuan… Putri? Aku?” tanyaku bingung. “Di mana aku? Di mana angkot tadi?”
“Angkot? Saya tidak mengerti maksud Anda, Putri. Ini adalah Istana Awan,” jawab pelayan itu sambil tersenyum ramah. “Mari, sarapan Anda sudah siap.”
Aku bangkit dari tempat tidur. Kemudian, pandanganku mengarah ke sebuah jendela yang sangat besar. “Sungguh menakjubkan!” gumamku terheran-heran.
Di luar sana, aku tidak melihat jalan raya yang macet, melainkan hamparan awan putih seputih kapas. Dan di tengah-tengah istana yang megah ini, tumbuh sebuah pohon yang belum pernah kulihat sebelumnya. Batangnya berwarna perak metalik, dan dahan-dahannya melengkung berat karena beban buahnya. Pohon itu tidak berdaun. Sebagai gantinya, ribuan lembar uang dari berbagai negara tergantung di sana, berdesir pelan ditiup angin.
“Ini… ini nyata?” tanyaku sambil berjalan mendekat ke pohon itu. Aku memetik selembar uang seratus ribuan. Teksturnya terasa kaku dan baru. Begitu kupetik, sedetik kemudian muncul tunas baru di dahan yang sama.
“Tentu saja, Sayang. Pohon Uang ini adalah hadiah dari Kerajaan Langit untukmu, untuk pernikahan kita,” kata seorang pria yang tiba-tiba muncul di belakangku.
Aku berbalik. Pria itu tampan, sangat tampan. Dia mengenakan pakaian formal yang elegan, seperti setelan jas untuk acara red carpet, namun dengan sentuhan mahkota kecil yang tersembunyi di rambutnya. Tatapannya hangat dan penuh cinta.
“Pernikahan? Pernikahan dengan siapa? Apa maksudnya? Kita?” tanyaku panik.
“Pernikahan denganku, Aura,” jawabnya sambil menggenggam tanganku. “Aku adalah Pangeran Romi, Pangeran dari Kerajaan Langit.”
Aku menatapnya lekat. Dia tidak terlihat seperti pangeran di dongeng yang biasa kubaca. Dia lebih mirip model majalah atau aktor film. Tapi ada satu hal yang pasti, dia benar-benar nyata, dan dia adalah, suamiku?
“Tapi… tapi bagaimana bisa?”
“Kamu sudah berdoa pada Air Mancur Keajaiban, Aura,” kata Romi lembut. “Doamu adalah doa yang tulus dari seorang yang percaya pada keajaiban. Dan di sinilah kamu. Di tempat di mana keajaiban itu benar-benar terjadi.”
Romi memelukku. “Pohon Uang ini tidak akan pernah habis, dan kebahagiaan kita tidak akan pernah pudar. Kamu adalah Tuan Putri di Istana Awan, dan kamu akan hidup bahagia selamanya bersamaku, sebagai ratuku.”
Aku menatap Pohon Uang itu, lalu menatap Romi. Tidak ada lagi tagihan yang menumpuk, tidak ada lagi perut keroncongan, tidak ada lagi angkot yang pengap. Yang ada hanyalah kemewahan, keajaiban, dan cinta yang tak terbatas.
Aku pun tersenyum, bukan senyum kecut, tapi senyum penuh rasa syukur. Ternyata, hidup ini bisa menjadi dongeng yang sangat indah, dan aku, Aura, adalah pemeran utamanya yang hidup bahagia selamanya.
Selesai.